Monday, March 26, 2018

PENDOKUMENTASIAN DIGITAL KESENIAN & BUDAYA LOKAL

PENDOKUMENTASIAN DIGITAL KESENIAN & BUDAYA LOKAL MODEL PAK SARTONO ADALAH SALAH SATU CARA MEMELIHARA BUDAYA BANGSA


Saat bincang-bincang hati ke hati dengan pak Sartono (Pak Kalong), Direktur Radio Budaya Raka FM Purbalingga, ada gagasan brilian yang tercetus.
Pak Kalong waktu itu saya pancing dengan pertanyaan: “Ngapain pak Kalong ngadain pagelaran live kesenian lokal seperti Ebeg, Dames, Aplang, Genjringan, Gendhingan, Jemblungan, Lengger, Kidungan dan lain-lain. Bukankah ranah radio adalah penyiaran melalui media suara?”.
“Begini pak Dibyo. Radio Raka FM Purbalingga sudah memproklamirkan diri sebagai Radio Budaya, maka tindak lanjut dan konsekwensi kami mengadakan:
1. Memperbanyak porsi siaran kesenian dan budaya, termasuk laporan-laporan live dari lapangan.
2. Mengadakan siaran langsung live streaming audio pagelaran kesenian seperti wayang kulit, ebeg dan lain-lain. Bahkan sekarang mulai diperkuat dengan penayangan gambar via yutube dan FB streaming.
3. Menyeponsori nonton wayang bareng lewat live streaming di halaman studio dengan menggelar layar lebar, dimana selain para pendengar setia siaran budaya, para pedagang kuliner dan mainan anak-anak ikut mengais rizki dengan adanya keramaian ini.
4. Secara berkala mengadakan live pagelaran kesenian di halaman studio baik berupa Ebeg, Lengger, Aplang atau kesenian lainnya.
5. Mendokumentasikan setiap siaran dan kegiatan seni budaya dalam format digital sebagai data base budaya yang dapat dipertanggungjawabkan dan digunakan sebagai bukti kongkrit di kemudian hari.”
Demikian pak Kalong menyampaikan.

“Apakah Raka FM tidak akan mengambil porsi lebih banyak, misalnya penggalangan seniman?” begitu sambung pertanyaan saya.
Jawab pak Kalong: “Untuk ke arah sana jelas terlalu berat, karena sumber daya kami terbatas, sehingga kami membatasi diri pada dunia penyiaran saja. Untuk tetap konsisten di bidang penyiaran yang berhubungan dengan seni budaya itupun tantangannya luar biasa berat. Kami harus patuh mengikuti peraturan dan tetap di bawah kendali KPID”. “Kami harus menjadi corong pembangunan, sosial, politik, ekonomi dan budaya yang independen”. “Seperti pak Dibyo dengan Genta Sentramas-nya, kan juga mengambil segmen khusus yaitu Kesenian Tradisional, sedang bidang sosial dan UMKM adalah kegiatan ikutan sebagai penyangga”. “Jadi mari pak, kita berkarya sesuai dengan dunia dan kemampuan masing-masing, Genta Sentramas Baraya adalah Suatu Gerakan yang berbadan hukum, demikian Radio Raka FM Purbalingga juga badan hukum yang Visi-Misinya jelas”.
Dengan curhat-curhatan seperti itu, kami merasa tidak sendiri dalam menjaga budaya bangsa.
Indonesia adalah negara budaya yang didukung dan terdiri dari budaya lokal berbagai suku bangsanya.
Maka sangat naif dan aneh kalau masih ada yang berusaha keras memaksakan budaya asing untuk diadopsi, karena jelas-jelas tidak cocok dengan kepribadian bangsa.

Rama Wirya
Doc.Foto: Jayenk Rakafm